Pages

Selasa, 13 September 2011

As'adiyah ^_^

SEJARAH DAN KIPRAH PESANTREN AS`ADIYAH

Pondok Pesantren ini didirikan oleh Al-Alimul Allamah Anre Gurutta (AG) H. M. As‘ad. (Dalam masyarakat Bugis dahulu ia digelair Anre Gurutta Puang Aji Sade‘). Ia adalah putra Bugis, yang lahir di Mekkah pada hari Senin 12 Rabi‘ul Akhir 1326 H/1907 M dari pasangan Syekh H. Abd. Rasyid, seorang ulama asal Bugis yang bermukim di Makkah al-Mukarramah, dengan Hj. St. Saleha binti H. Abd. Rahman yang bergelar Guru Terru al-Bugisiy.
Pada akhir tahun 1347 H/1928 M, dalam usia sekitar 21 tahun, AG H. M. As‘ad merasa terpanggil untuk pulang ke tanah leluhur, tanah Bugis, guna menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk tanah Wajo khususnya, dan Sulawesi pada umumnya. Ia berbekal ilmu pengetahuan agama yang mendalam dan gelora panggilan ilahi, disertai semangat perjuangan yang selalu membara. Pada waktu itu, memang berbagai macam bid‘ah dan khurafat masih mewarnai pengamalan agama Islam, oleh karena kurangnya pendidikan dan da‘wah Islamiyah kepada mereka.
Mesjid Jami' Sengkang
AG. K. H. M. As'ad
Langkah pertama yang dilakukan AG H. M. As‘ad setelah tiba di kota Sengkang adalah mulai mengadakan pengajian khalaqah di rumah kediamannya. Di samping itu beliau mengadakan da‘wah Islamiyah di mana-mana, serta membongkar tempat-tempat penyembahan dan berhala-berhala yang ada disekitar kota Sengkang. Pada tahun pertama gerakan beliau, bersama dengan santri-santri yang berdatangan dari daerah Wajo serta daerah-daerah lainnya, beliau berhasil membongkar lebih kurang 200 tempat penyembahan dan berhala. Pada tahun 1348 H/1929 M, Petta Arung Matoa Wajo, Andi Oddang, meminta nasehat Anre Gurutta H. M. As‘ad tentang pembangunan kembali masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami, yang terletak di tengah-tengah kota Sengkang pada waktu itu. Setelah mengadakan permusyawaratan dengan beberapa tokoh masyarakat Wajo, yaitu AG H. M. As‘ad, H. Donggala, La Baderu, La Tajang, Asten Pensiun, dan Guru Maudu, maka dicapailah kesepakatan bahwa mesjid yang sudah tua itu perlu dibangun kembali. Pembangunan kembali masjid itu dimulai pada bulan Rabiul Awal 1348 H/1929 M, dan selesai pada bulan Rabiul Awal 1349/1930 M. Setelah selesai pembangunannya, maka Masjid Jami itu diserahkan oleh Petta Arung Matoa Wajo Andi Oddang kepada AG H. M. As‘ad untuk digunakan sebagai tempat pengajian, pendidikan, dan da‘wah Islam. Sejak itulah AG H. M. As‘ad mendirikan madrasah di Mesjid Jami‘ itu, dan diberi nama al-Madrasah al-‗Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo. Tingkatan-tingkatan yang dibina pada waktu itu adalah:
1. Tahdiriyah, 3 tahun
2. Ibtidaiyah, 4 tahun
3. Tsanawiyah, 3 tahun
4. I‘dadiyah, 1 tahun
5. Aliyah, 3 tahun
Semua kegiatan persekolahan ini dipimpin langsung oleh AG H. M. As‘ad, dibantu oleh dua orang ulama besar, yaitu Sayid Abdullah Dahlan garut, ex. Mufti Besar Madinah al-Munawwarah, dan Syekh Abdul Jawad Bone. Ia juga dibantu oleh murid-murid senior beliau seperti AG H. Daud Ismali, dan almarhum AG H. Abd. Rahman Ambo Dalle. Pengajian khalaqah (pesantren) yang diadakan setiap ba‘da shalat Subuh, ba‘da shalat Ashar, dan ba‘da shalat Magrib, yang semula diadakan di rumah AG H. M. As‘ad, dipindahkan kegiatannya ke Mesjid Jami Sengkang. Pesantren dan Madrasah yang didirikan dan dibina oleh AG H. M. As‘ad itulah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren As‘adiyah sekarang.
Selain Pesantren dan Madrasah tersebut di atas, AG H. M. As‘ad juga membuka suatu lembaga pendidikan yang baru, yaitu Tahfizul Qur‘an, yang dipimpin langsung olehnya, dan bertempat di Masjid Jami Sengkang. Pada tahun 1350 H/1931 M, atas prakarsa Andi Cella Petta Patolae (Petta Ennengnge), dengan dukungan tokoh-tokoh masyarakat Wajo, dibangunlah gedung berlantai dua di samping belakang Masjid Jami Sengkang. Bangunan itu diperuntukkah bagi kegiatan al-Madrasah al-Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo, karena santrinya semakin bertambah. AG H. M. As‘ad berpulang ke rahmatullah pada hari Senin 12 Rabiul Akhir 1372 H/29 Desember 1952 M. dalam usia 45 tahun. Sesuai dengan wasiat beliau beberapa saat sebelum wafat, peninggalannya berupa Madrasah dan pesantren kemudian dilanjutkan pembinaannya oleh dua murid senior; AG H. Daud Ismail, dan AG H. M. Yunus Martan. Pada tanggal 13 Agustus 1999, berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1959, dan Keppres RI No. 076/TK/Tahun 1999, Presiden RI telah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Naraya kepada AG H. M. As‘ad, karena jasa-jasa beliau yang luar biasa terhadapa negara dan bangsa Indonesia. Tanda penghormatan itu diterima di Jakarta atas nama beliau oleh putra beliau, H. Abd. Rahman As‘ad. 


Sumber : Rumah Kitab 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tabe' bolehkah saya copy artikel ini..

thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^ thanks for coming to my blog, hope you enjoy it ^_^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...